Harapan yang Aku Tahu Hanyalah Sia - sia

Saat menulis ini, aku sedang memikirkan kamu. Ya, kamu. Tepatnya aku sedang memikirkan wajahmu. Bola mata yang teduh itu, alis yang melengkung dengan damai, bibir yang jika tersenyum semua laki-laki akan jatuh cinta. Ah, barangkali aku tak memikirkanmu, malah sekarang aku sedang melihat fotomu. Nampak jelas guratan-guratan cantikmu, mahakarya Tuhan yang diciptakannya untuk kunikmati dengan mata telanjang.
Sebenarnya, jauh saat aku mengagumi wajahmu, aku lebih dulu mengagumi pola tingkahmu yang biasa saja, namun dapat memenangkan hatiku. Memenangkan hati setiap laki-laki. Karena aku sadar, yang merasakan kagum ini bukan aku saja. Lengkap sudah rasa tersainginya aku :).
Tapi, ada yang luput dari pandanganmu, dari sekedar kekagumanku padamu. Cinta. Yah, cinta. Sangat sulit kubayangkan rasa kekaguman berujung hingga cinta, aku berani berkata seperti ini karena aku telah meneteskan air mata di depanmu. Di depan wajahmu yang elok itu, aku bimbang memaknai semua rasa ini, rasa yang telah Tuhan berikan pada laki-laki biasa dan gila ini. Rasa yang setiap hari semakin menjalar, menjalar dalam kegilaan doa yang tercurah dengan tulusnya. Setiap hari, setiap hari.
Entah, akan kusimpan dimana dan kurawat sampai kapan cinta yang melukai ini. Saat aku menulis ini, bahkan kamu telah memuji kekasih-mu. Hatiku patah, aku bimbang, aku tak tahu harus bahagia atau sedih. Bahagia saat melihatmu bahagia, sedih karena aku yang tak bisa bahagia sepertimu .
Untukmu yang kusebut kehidupan, kekuatan sekaligus kesakitan yang entah apa ku namakan. Galau mungkin, ah itu terlalu biasa, ini lebih dari sekedar galau, tren anak muda saat saat sakit hati. Tapi ini lebih dari sekedar sakit hati. Sekarang, fikirkan saja, lelaki mana yang setiap malam selalu mengigau menyebut nama wanita yang ia cinta? Lelaki mana yang setiap sujudnya selalu berdoa untuk kemuliaan wanita yang dia cintai? Pastilah laki-laki yang benar-benar cinta. Pasti sangatlah jarang. Kusebut jarang karena aku tak tahu barangkali ada yang lebih mengagumimu sekedar aku. Laki-laki mana yang setiap hari selalu menetskan air matanya dengan cuma-cuma untuk wanita yang ia sayang, kalau tidak sayang, tidak cinta pastilah sayang diteteskan. Aku berkata sungguh. Dari lubuk hatiku yang paling dalam, telah kutanam cinta ke dalam dasar hatimu yang paling angkuh. Angkuh karena telah mengabaikan perasaanku, angkuh karena kau terus memuji kekasihmu, angkuh karena kamu tak rasakan apa-apa. Hanya kau anggap sebagai lelucon kekana-kanakan, karena melihat amarah ku, tanpa kau lihat mengapa dan seperti apa.
Jangan berfikir bahwa aku dendam, bahwa akan kusebut karma yang akan melukaimu di masa datang. Tidak, sungguh tidak. Sudah kubilang dari awal, aku akan bahagia melihatmu bahagia, tapi entah bahagia yang seperti apa, setidaknya aku sudah rela, walau belum benar-benar rela. Aku hanya berharap dan berdoa semoga kelak, sebelum kau mati atau aku yang dahulu mati kau akan merasa, cukup merasa, bahwa di sini, di tempat kau naungkan segala duka, di tempat kau curahkan segala bahagia, sebut saja dunia. Bahwa ada laki-laki yang benar-benar tulus mencintaimu semasa hidupnya. Kau telah menjadi catatan terpenting yang pernah ia simpan diam-diam saat kau abai, saat kau lalai. Sendiri.
Ketika itu, memang semua salah ku...
Kita memang tak pernah membuat janji, tak pernah berjanji untuk saling menyayangi atau berjanji untuk selalu setia. Kita juga tak pernah berjanji tidak akan pergi atau akan tetap tinggal. Kita pasti dipertemukan untuk sebuah alasan, entah untuk saling melengkapi atau menyakiti.
Kita hanya sering menghabiskan waktu berdua, menonton film, makan bersama, pergi kemana saja, tanpa punya sebuah (aku tak bisa menjelaskan), bahkan kita juga tidak bisa disebut sebagai teman. Awal pertemuan kita di rumah Tuhan itu, adalah sebuah awal dari cerita ini. Pertama kali aku mengirim pesan di Whatsapp, pertama kali aku mendengar cerita mu mengenai kekesalan mu terhadap ojek online yang terlambat, pertama kali aku menawarkan untuk membantu mu membawa tas, pertama kali kita keluar bersama menonton film “Black Panther” dan banyak pertama-pertama yang kita lakukan.
Seharusnya aku tak menjatuhkan hatiku di sana, tak menjatuhkan hatiku kepada seseorang yang tidak pernah mengakui ku. Seharusnya juga aku tidak mengatakan akan berusaha dan seharusnya kamu tak meng”iya”kan untuk menungguku. 1 tahun lebih kamu menunggu, menungguku untuk selayaknya manusia yang pantas kau tampilkan di depan keluarga mu, dan aku menunggumu untuk menerima cinta ku dan sekarang aku menunggu diriku untuk sembuh dari kecelakaan ini.


Komentar

Postingan populer dari blog ini

Apa sih komitmen itu?